Peduli Terhadap Perkembangan Jurnalisme Warga, Kompas Adakan Seminar Bahasa

Sabtu (19/10/10), bertempat di Gedung Kompas Gramedia, Jl Palmerah Barat 33-37, Jakarta, Kompas mengadakan Seminar Bahasa dengan mengangkat tema “Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme Warga”.

Pengangkatan tema tersebut tidak lepas dari semakin meningkatnya geliat eksistensi pewartaan secara individu oleh masyarakat atau yang biasa kita kenal dengan istilah jurnalisme warga, seiring dengan semakin mudahnya penggunaan fasilitas media online.

Seminar "Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme Warga". (kira ke kanan) Gesit Ariyanto, Masmimar Mangiang,  Pepih Nugraha,  van Lanin
Seminar “Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme Warga”. (kira ke kanan) Gesit Ariyanto, Masmimar Mangiang, Pepih Nugraha, dan Ivan Lanin

Tidak adanya sistem redaksional pada jurnalisme warga mempunyai kekhawatiran terhadap ketatabahasaan yang baik dan benar. Sehingga, diperlukan sebuah diskusi bersama agar perkembangan jurnalisme warga bisa lebih tertata dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tiga pembicara dihadirkan dalam seminar tersebut, yaitu ;

  1. Masmimar Mangiang (Dosen Komunikasi Universitas Indonesia)
  2. Ivan Lanin (Editor Google Indonesia/Wikipediawan)
  3. Pepih Nugraha (Managing Editor Kompas.com)

Dimoderasi oleh Gesit Ariyanto, Wakil Editor Desk Humaniora, Kompas, masing-masing pembicara membawakan materi yang cukup menarik di bidang jurnalistik dan kebahasaan, khususnya di media online. Pepih Nugraha misalnya, sebagai orang yang sudah cukup malang-melintang di dunia jurnalistik, ia paparkan beberapa rumusan judul sebuah berita yang biasa dimuat di Kompas.com dan komparasinya (sekaligus korelasi) dengan Kompas edisi cetak.

Judul berita di media online yang kadang cenderung lebay dan bombastis diamini oleh Pepih Nugraha, bahkan ia memasukan kebombastisan tersebut sebagai salah satu rumus dalam pembuatan judul agar menarik orang untuk membacanya. “Meskipun judulnya bombastis, kalau faktual ya tidak masalah”, ujar Pepih.

Setelah sesi kupas-mengupas judul, sesi selanjutnya giliran Ivan Lanin. Pria yang aktif sebagai Wikipediawan ini berbagi ilmunya mengenai “Jurnalisme Warga yang Efektif dan Dapat Dipertanggungjawabkan”. Dalam presentasinya, Ivan Lanin banyak menyampaikan poin-poin kritikan yang wajib diketahui oleh para aktivis jurnalisme warga. Kurang lebih ada tiga hal kritik yang harus diperhatikan yaitu, objektivitas, kualitas, dan legalitas.

Masalah objektivitas berkaitan erat dengan etika dan metode penyampaian berita kepada publik. Sedangkan masalah kualitas berkaitan dengan isi berita, mulai dari etiket, tata bahasa, dan yang paling umum adalah unsur 5W – 1H. Legalitas menjadi perhatian penting oleh Ivan Lanin, ini tentu saja berkaitan dengan kelembagaan dan ranah hukum.

Pada persoalan legalitas, bisa terlihat begitu banyak titik rawan yang sebetulnya wajib diperhatikan oleh para penggiat jurnalisme warga. Sifatnya yang perorangan membuat konten informasi yang disampaikan harus terjaga dari hal-hal yang dapat memancing tuntutan hukum, karena semua isi berita yang disampaikan menjadi tanggung jawab sendiri. Paling umum terkait isu legalitas adalah masalah hak cipta, seperti masih kurangnya kesadaran etika para jurnalis warga dalam memuat gambar yang bersumber dari situs lain.

Sesi terakhir disampaikan oleh Masmiar Mangiang dengan materi “Pengaruh Bahasa sebagai Alat Komunikasi dalam Media Online dan Jurnalisme Warga terhadap Komunikan”.

Menurut Dosen Komunikasi Universitas Indonesia ini, pada hakekatnya jurnalisme online sama dengan jurnalisme yang dikenal sejak dulu. Ini bisa dilihat dari ketentuan pokoknya ; informasi bernilai penting bagi masyarakat, informasi mengundang perhatian (rasa ingin tahu) publik, faktual, aktual, fair, akurat, lengkap menjawab 5W – 1H, berimbang, tidak berprasangka, menggunakan bahasa secara jelas, menggunakan bahasa dengan efisien, tidak melanggar kaidah hukum, dan taat pada etika.

Yang menjadi perbedaan antara media baru dan lama hanya ; medium yang dipakai buat menyampaikan pesan, kecepatan menyampaikan informasi, dan kemampuan menyajikan informasi. Contoh yang paling sederhana adalah dapat dibaca, didengar (memiliki fasilitas audio), dan ditonton (memiliki fasilitas video).

Di kesempatan tersebut juga disampaikan maksud dari bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baik bisa dilihat dari sisi komunikasi, semisal dengan siapa kita berbicara, jika dalam media berita, berarti untuk siapa berita tersebut disampaikan, misalnya berdasarkan klasifikasi usia. Sedangkan bahasa yang benar, bisa dilihat dari tata bahasa dan ejaan.

Semakin maraknya penggunaan istilah baru dalam bahasa pergaulan sehari-sehari yang tidak sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD), ternyata sering juga membuat dunia jurnalistik terbawa didalamnya. Ini mengingatkan kita pada pertanyaan “ayam dulu apa telur dulu ?”, sehingga “bahasa pergaulan publik yang mempengaruhi media atau media mempengaruhi yang mempengaruhi bahasa pergaulan publik ?.”

Setelah semua pembicara menyampaikan materi, sesi tanya jawab dibuka. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para peserta seminar, beberapa blogger dan mahasiswa yang menghadiri acar tersebut berebut mengacungkan tangan untuk menyampaikan pertanyaan.

Sebelum acara ditutup, ternyata ada pengumuman pemenang Lomba Blog Bulan Bahasa 2012, para penanya terbaik, dan most live tweet. Selanjutnya, ramah tamah dan makan siangpun menjadi penutup acara yang penuh keakraban antar peserta yang hampir semuanya aktif di media online.

  • 195 Posts
  • 61 Comments

Kala senggang di antara bekerja sebagai web master sebuah perusahaan travel, nyambi sebagai social media planner dan digital marketing agency, saya sempatkan menulis di blog ini.