Jualan Online: Antara Bikin Online Shop Sendiri atau Jualan di Marketplace

Tidak lagi ‘pelan tapi pasti’, tapi kini jualan online telah tumbuh meroket dan mewabah di mana-mana. Meski kadang dibumbui oleh beberapa kabar miring tentang pengalaman berbelanja online yang kurang menyenangkan, pada kenyataannya hal itu tak terlalu memberi dampak terhadap antusiasme banyak orang untuk membelanjakan uangnya secara online.

Jika mengutip dari MONEY.ID, Menkominfo Rudiantara sendiri memprediksi bahwa nilai transaksi eCommerce di Indonesia pada 2016 akan mencapai angka US$ 4,89 miliar atau sekitar lebih dari Rp 68 triliun. Prediksi yang wajar jika di tahun 2015 saja transaksi jualan online mencapai US$ 3,56 miliar.

Gurihnya jualan online memang tidak selalu lempeng bagi mereka yang menjalaninya. Menjajakan barang di media digital memang menjanjikan, tapi jika hanya meraba dan berbekal manisnya kata orang, bisa jadi malah membuat waktu banyak terbuang hanya untuk ngutak-ngatik cara berjualan, belum sampai ke tahap bagaimana caranya agar orang tertarik membeli.

Satu hal yang lumayan membuat orang bingung adalah memilih antara berjualan online di situs sendiri atau di situs marketplace semisal Bukalapak dan Tokopedia.

Tidak terlalu sulit sebetulnya untuk memilih berjualan online menggunakan situs (online shop) sendiri atau melalui situs marketplace, karena semuanya akan kembali kepada kemampuan diri kita sendiri dalam menjalankan usaha (operasional) dan target pendapatan yang dikejar (potensi).

Jika sama sekali belum memiliki kemampuan dalam mengelola situs eCommerce sendiri, sementara Anda sangat tertarik untuk berjualan online, saya lebih menyarankan untuk memilih berjualan di situs marketplace. Karena ketika kita memutuskan untuk berjualan di situs sendiri, kita harus siap untuk investasi lebih, baik dari segi biaya, waktu maupun energi.

Untuk lebih mudahnya, bisa disimak pada tabel berikut ini:

situs sendiri atau marketplace

Sebagaimana poin 5 pada kelebihan marketplace, waktu yang kita miliki lebih terfokus untuk memastikan kualitas setiap barang, ketersediaannya yang memadai, pengiriman yang tepat waktu dan respon pelayanan yang lebih tanggap.

Mengoptimalkan Jualan Online di Marketplace

PR besar jualan online di marketplace biasanya soal persaingan kita dengan sesama penjual online di marketplace yang sama. Semakin tinggi transaksi dan feedback positif yang diraih, biasanya akan mempengaruhi  tingkat kepercayaan calon pembeli. Jangan khawatir kalah bersaing jika Anda baru memulainya. Beberapa kali saya menjual barang di Bukalapak, rata-rata tidak sampai 3 hari sudah ada yang membeli. Tentu dengan beberapa sebab. Antara lain:

  1. Kualitas dan kondisi barang (baru atau bekas sangat menentukan).
  2. Memberikan respon yang tanggap terhadap pertanyaan calon pembeli. Ya, bagaimanapun pembeli adalah raja.

Yang jualan barang baru dengan model yang sama, banyak! Apalagi respon yang tanggap, semua penjual berusaha setanggap mungkin. Maka, jangan terlalu serakah dalam mengambil untung. Cara yang saya pakai biasanya:

  1. Sebelum menggelar jualan, urut harga mulai dari yang termurah untuk produk sejenis. Kita jangan mau kalah, harus jadi yang paling murah. Sekalipun selisihnya paling 500 rupiah dari produk sejenis termurah yang sudah ada. Fungsinya buat apa? Setidaknya, ketika calon pembeli mengurut produk dari yang paling murah, produk kita ada di yang paling atas dan tetap ada untungnya.
  2. Kalau di Bukalapak, saya beli fitur PUSH juga. Misal, untuk produk yang harganya 1 juta ke atas, saya anggarkan biaya PUSH sebesar Rp. 5.000. Lumayan bisa 10 kali PUSH. Dengan PUSH ini kita akan mendorong produk yang kita jual ke urutan atas (latest).

Ilustrasi Gambar (CC-BY-SA 3.0 oleh Dressformer)

  • 194 Posts
  • 61 Comments

Kala senggang di antara bekerja sebagai web master sebuah perusahaan travel, nyambi sebagai social media planner dan digital marketing agency, saya sempatkan menulis di blog ini.