Pengalaman Migrasi TV Analog ke TV Digital

“Akhirnya… dapat juga!”, demikianlah ungkapan pertama saya di sekitar 4 bulan lalu ketika berhasil menemukan Set Top Box (STB) setelah seharian muter-muter di ITC Kuningan dan Pusat Grosir Cililitan. STB disini adalah sebuah dekoder terestial, atau yang dikenal juga dengan Digital Video Broadcasting – Second Generation Terrestrial (DVB-T2). Dengan STB ini, TV yang kita gunakan bisa meneriman sinyal digital tanpa memerlukan parabola khusus. Ya, cukup dengan antena UHF-VHP, kita sudah bisa migrasi TV analog ke TV digital.

Kenapa migrasi TV analog ke TV digital?

Alasan sederhana kenapa saya bermigrasi ke TV digital karena ingin menikmati siaran TV dengan kualitas layar siaran yang jernih, layaknya TV kabel berbayar, tapi tidak keluar biaya bulanan. Maklum, di tempat saya tinggal, kualitas siaran analognya tidak terlalu bagus, meskipun sudah pakai antena luar dengan spesifikasi yang bisa dibilang lumayan.

Sekitar 8 tahun ke belakang, tepatnya tahun 2009, Pemerintah RI melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyiapkan sebuah peta jalan (roadmap) transisi proses migrasi TV analog ke TV digital. Proses transisi ini direncanakan sudah rampung tahun 2018. Itu berarti (semestinya), di kisaran 1 tahun kedepan tidak akan ada lagi siaran TV analog. Bagi kita selaku penikmat siaran, solusinya ada 3;

  1. Beli STB (seperti yang saya lakukan)
  2. Ganti TV dengan TV terbaru yang sudah terintegrasi dengan TV digital (Integrated Digital Television / iDTV)
  3. Berlangganan TV berbayar

Stasiun TV yang sudah memiliki siaran TV Digital

Meski sempat was-was dengan tangkapan siaran TV digital di area tempat saya tinggal, rasanya kurang mantap kalau tidak dicoba. Alhasil, seperti cerita di paragraf pembuka tadilah saya memulai. Mulai dari berburu STB yang merek Polytron, Venus, Skybox, Xtreamer, akhirnya dapatlah yang Akari dengan harga 370 ribuan. Kalau beli daring bisa dapat 320 ribuan (belum ongkir), tapi karena saya sudah kadung tak sabar, akhirnya memilih beli luring. Toh total biayanya tidak jauh beda.

Seperti yang sudah dibilang tadi, untuk menggunakan STB DVB-T2 ini kita cukup menggunakan antena biasa. Topografinya sebagai berikut:

Topografi TV Digital menggunakan STB DVB-T2
Topografi TV Digital menggunakan STB DVB-T2

Antena terhubung ke STB, dari STB kemudian ke TV. Kabel antena (coaxial) dari STB ke TV adalah opsional, untuk memudahkan jika sewaktu-waktu ingin menggunakan siaran analog tanpa harus bongkar pasang kabel. Dari sini kita juga bisa menyimpulkan bahwa komponen utama untuk menikmati siaran TV digital dengan STB DVB-T2 salah satunya adalah antena. Tanpa antena, tidak ada siaran digital yang bisa ditangkap.

Karena antena juga merupakan komponen utama, posisi dan kualitas daya tangkapnya juga akan memperngaruhi seberapa banyak kanal digital yang bisa diterima oleh STB. Di tempat saya (Jakarta Timur) ada 29 kanal digital yang berhasil diterima dengan baik. Antara lain:

  1. Metro TV
  2. Magna TV
  3. BNTV
  4. Metro TV HD
  5. TV One
  6. ANTV
  7. Sport One
  8. TV One 2
  9. Berita Satu
  10. Berita Satu World
  11. Trans TV HD
  12. TVRI 1
  13. TVRI 2
  14. TVRI 3
  15. TVRI 4
  16. TVRI HD
  17. CNN Indonesia
  18. TV Mu
  19. Nusantara TV
  20. Tempo TV
  21. DAAI TV
  22. Inspira TV
  23. NET
  24. Indonesia TV
  25. Kompas TV
  26. Gramedia TV
  27. SCTV
  28. Indosiar
  29. O Channel
Jumlah channel tv digital yang berhasil diterima di tempat saya dengan STB-DVB-T2 Akari

Khusus untuk MNC Group (RCTI, MNC, Global TV), entah kenapa sudah beberapa kali coba di-searching ulang tetap tidak berhasil ditangkap.

Pengalaman saya dengan STB Akari, untuk kabel konektor dari STB ke TV yang paling ideal adalah dengan kabel HDMI, dibanding kabel RCA. Sebagai informasi, TV yang saya gunakan adalah model LED, mungkin jika di TV tabung dengan kabel RCA pun sudah bisa jernih.

Kembali ke soal kanal yang gak bisa ditangkap siaran digitalnya. Buat saya tidak terlalu masalah sebetulnya, baru terasa agak masalah kalau harus nonton bola di kanal tersebut. Misal, Liga Champion! Untungnya saya masih tetap bisa bolak-balik ke mode analog, jadi masih bisa menikmati kanal yang “terkecualikan” tersebut dengan sedikit bersemut. So far, sejauh ini saya sangat senang dengan siaran TV digital.

Perbandingan siaran tv analog dan tv digital
Perbandingan siaran tv analog dan tv digital di tempat saya.

Beberapa kelebihan siaran TV Digital

Bicara senang dan puas saja tentu kurang mantap kalau tidak ada kelebihan yang menjadi latar alasan kepuasan. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dari siaran TV digital (via DVB-T2) berdasarkan user experience dengan STB DVB-T2 Akari DS-168:

  1. Kualitas siaran pada layar TV sangat jernih. Apalagi jika stasiun TV-nya menyediakan siaran digital versi HD juga. Hanya ada 2 kemungkinan di TV digital; jernih (yang berarti siaran berhasil ditangkap) atau tidak ada (yang berarti siaran tidak berhasil ditangkap atau stasiunnya belum mendukung siaran digital). Tidak ada istilah renyek. Kalau misal ada nge-lag dikit, biasanya karena arah antena yang kurang pas.
  2. Tidak ada biaya bulanan. Karena TV lokal saja sudah saya rasa cukup, tentu menikmati siaran TV digital dengan menggunakan STB DVB-T2 sudah dirasa lebih dari cukup. Biaya yang saya keluarkan hanya untuk pembelian STB di awal, selebihnya bisa menikmati siaran TV yang jernih tanpa ditagih biaya langganan setiap bulan.
  3. Pengaplikasian yang praktis dan sederhana. Hanya tinggal memasangkan output antenna yang sudah ada ke input STB dan kabel HDMI dari STB ke TV, voila! Berbagai siaran TV digital sudah bisa kita jelajahi untuk dinikmati.
  4. Siaran TV bisa direkam. Ya, hanya tinggal mencolokan USB atau HD eksternal, kita sudah bisa menyimpan siaran yang sedang berlangsung ke dalam media penyimpanan digital.
  5. STB bisa menjadi media player untuk film, foto, dan musik. Beberapa format yang bisa dimainkan antara lain MKV, AVI, MP4, MPG, VOB, TS, TRP, DAT, JPEG, JPG, BMP, MP3, WAV, OGG
  6. Dilengkapi dengan teknologi EWS (Early Warning System/Peringatan Bencana Dini)

Beberapa kekurangan siaran TV digital

Meski memiliki kelebihan, siaran TV digital juga bukan tanpa kekurangan. Faktor utama dari sederet kekurangan siaran TV digital saat ini bisa jadi karena progres dari pengaplikasian TV digital itu sendiri, yang sampai tahun ini (2017) masih dalam fase transisi. Berikut ini adalah beberapa kekurangan siaran TV digital yang saya rasakan.

  1. Posisi dan kondisi antena sebagai receiver utama siaran sangat mempengaruhi daya tangkap STB DVB-T2 terhadap siaran digital.
  2. Cakupan siaran digital masing-masing stasiun TV tidak sama dan masih cenderung terbatas. Jadi jangan heran, kalau beda kecamatan saja jumlah kanal digital yang berhasil diterima bisa berbeda.
  3. Tidak semua stasiun TV sudah menyediakan format siaran digital.
  4. Harga STB yang bisa dibilang masih sangat tinggi untuk kalangan tertentu.
  5. STB yang tidak mudah didapatkan, terutama bagi masyarakat di daerah yang masih minim akses terhadap layanan belanja daring.

  • 195 Posts
  • 61 Comments

Kala senggang di antara bekerja sebagai web master sebuah perusahaan travel, nyambi sebagai social media planner dan digital marketing agency, saya sempatkan menulis di blog ini.