Green Hospital, Ketika Sehat Bukan Hanya Hari Ini

Ringkasnya, sebuah rumah sakit masih sering dipandang sebagai tempat yang memungkinkan orang untuk sembuh dari sakitnya, sehat seperti sedia kala. Selepas dari itu, maka tuntaslah tanggung jawab rumah sakit.

Cara pandang seperti ini harus segera dirubah, pastinya kita tidak bisa memaksa orang untuk ‘ujug-ujug’ tidak memberikan pandangan demikian terhadap peran dan fungsi rumah sakit. Ibarat perubahan harus dari dimulai dari sendiri agar orang lain juga merubah cara pandangnya terhadap kita, begitu juga dengan rumah sakit. Dari yang semula identik hanya tempat menyembuhkan orang sakit bertransformasi menjadi pusat edukasi masyarakat bahwa sehat itu bukan hanya hari ini, melainkan seterusnya, berkelanjutan !

Kalau kita tarik ujung benang “gaya hidup sehat” dan “gaya hidup hijau”, maka kedua ujung benang tersebut akan tertuju pada satu pangkal yang sama, yaitu bekelanjutan, atau yang bisa dikenal juga dengan istilah ‘sustainability‘.

Bukankah gaya hidup sehat dan gaya hidup hijau sama ?

Opini saya mengatakan tidak sepenuhnya sama. Gaya hidup sehat belum tentu memberi dampak terhadap kelestarian alam, tapi gaya hidup hijau sudah tentu memberi dampak positif terhadap kesehatan juga alam. Ibaratnya begini, Anda tidak membuang sampah sembarangan, sampai disitu gaya hidup sudah bisa dikatakan sehat. Sementara persoalan keramahan gaya hidup kita dengan alam tidak berhenti sampai disitu. Orang yang mempunyai gaya hidup hijau tidak hanya cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan, cara berpikir dia akan naik beberapa tingkat seperti membuang sampah sesuai klasifikasinya (organik dan anorganik), mempunyai gagasan membangun bank sampah, mendaur ulang sampah, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana dengan ‘green hospital ‘atau rumah sakit hijau ?

Seperti yang saya sampaikan diatas, rumah sakit harus mengambil peran lebih besar dalam mengedukasi masyarakat agar sehat secara berkesinambungan. Dasar yang paling penting adalah teladan dari pihak rumah sakit itu sendiri. Antara lain ;

  1. Bangunan rumah sakit berada di area hijau, kaya akan pepohonan dan tumbuhan yang sudah pasti akan memberikan limpahan oksigen yang segar.

  2. Rancang bangunan yang tidak hanya artistik tapi memungkinkan arus cahaya dan udara dari area hijau di sekitar rumah sakit bisa mengalir dengan baik ke dalam ruangan, sehinggan ruangan tetap terasa sejuk meski tanpa pendingin ruangan sekalipun. Kaya akan cahaya juga akan menghemat penggunaan daya listrik (energi)

  3. Tidak menggunakan tisu di toilet. Kita tahu, bahwa tisu sebagian besarnya terbuat dari kayu hasil hutan. Bayangkan, berapa rol tisu yang habis digunakan setiap harinya ?. Saya sendiri menyangsikan kehigienisan toilet kering (menggunakan tisu) sebagai media pembersih.

  4. Menggunakan automatic sensor respon untuk listrik dan air. Listrik pada ruangan tertentu (seperti toilet dan gudang) akan menyala sendiri jika ada orang di ruangan tersebut, kemudian juga mati sendiri ketika tidak ada orang. Sama halnya untuk air, air pada wastafel akan keluar sendiri ketika ada tangan yang diarahkan ke keran, dan mati sendiri ketika tidak ada tangan. Ini akan meminimalisir penggunaan energi listrik dan air yang tidak semestinya.

  5. Tersedia area parkir khusus sepeda sekaligus juga tersedia sepedanya. Sepeda tersebut bisa disewakan atau bebas pakai selama tidak keluar dari area rumah sakit.

  6. Mempunyai sistem pengolahan air dan limbah sendiri. Saya rasa, rumah sakit adalah tempat penghasil limbah yang nyata dan rutin, untuk itu diperlukanlah satu sistem pengolahan limbah yang sesuai dengan standar medis dan lingkungan. Kenapa harus punya sistem sendiri ?, karena pihak rumah sakitlah yang lebih mengerti pola penanganan limbah yang baik dan tidak melahirkan masalah baru, yang tidak hanya mengukur pada sebatas nilai komersil.

  7. Mengganti penggunaan plastik pada kemasan dan berbagai media lainnya yang menjadi bagian dari representasi pelayanan rumah sakit. Gunakan kemasan-kemasan yang ramah lingkungan tapi didesain secara menarik sehingga siapapun yang memilikinya tidak merasa malu untuk menggunakannya di lain waktu.

Kita bisa melihat bagaimana sebuah rumah sakit menjadi satu tempat yang mempunyai aturan gaya yang membuat siapapun ingin menirunya. Secara tidak langsung memberi sugesti bahwa kesehatan yang sudah pulih harus dijaga seterusnya. Kesadaran inilah yang akan memacu masyarakat kita sendiri untuk menaikan angka harapan hidup di Indonesia.

Beberapa dasar di atas hanya apa yang terbersit di pikiran saya, karena faktanya ternyata di Indonesia sudah ada rumah sakit yang menggagas penerapan konsep green hospital, yaitu RSU Daya Makasar. Ya, beruntunglah Anda warga Makasar dan sekitarnya yang sudah memiliki rumah sakit berwawasan ramah lingkungan dengan visi jauh kedepan. Info selengkapnya seputar RSU Daya Makasar bisa mengunjungi langsung websitenya di http://rsudaya.org

Berikut ini adalah salah satu contoh konsep Green Hospital dari Rush Medical Center

Sumber gambar fitur : republika.co.id

  • 195 Posts
  • 61 Comments
Kala senggang di antara bekerja sebagai web master sebuah perusahaan travel, nyambi sebagai social media planner dan digital marketing agency, saya sempatkan menulis di blog ini.