Dodongkal, Satu Lagi dari Kuliner Tradisional

Dodongkal  – Ada yang tidak biasa sore itu di depan salah satu minimarket yang ada di Cluster Chrysant Perumahan Citra Raya Tangerang. Sebuah gerobak jajanan dikerubuni oleh belasan orang dan berebut antrian.

Dongkal”, itulah sebaris tulisan yang tertulis didepan gerobak tersebut. Dongkal atau yang biasa disebut Dodongkal adalah sebuah makanan khas Sunda yang terbuat dari bahan dasar tepung beras, gula merah, dan kelapa. Dibeberapa daerah, Dodongkal dikenal juga dengan sebutan Awug.

Gerobak penjual "Dongkal" atau yang biasa disebut "Dodongkal" alias "Awug"
Gerobak penjual “Dongkal” atau yang biasa disebut “Dodongkal” alias “Awug”

Baik secara tekstur maupun komposisi, sebetulnya hampir tidak ada perbedaan antara Dodongkal dengan kue Putu. Yang membedakan hanyalah pewarnaan dan sedikit cara pembuatan. Jika kue putu seringnya diberi pewarna hijau (meskipun ada juga yang tanpa pewarna), dodongkal berwarna putih polos.

Jika kue putu biasanya dibuat dalam cetakan potongan bambu atau pipa, dodongkal dikukus menggunakan kukusan berbahan bambu, atau yang biasa dikenal “Aseupan” oleh masyarakat Sunda.

Proses pengukusan Dodongkal
Proses pengukusan Dodongkal

Alami, adalah salah satu ciri paling khas dari Dodongkal. Dimulai dari bahan-bahannya yang bebas bahan kimia (sebagaimana umumnya masakan tradisional) hingga cara penyajiannya.

Teksturnya ‘belang-belang’ hasil kombinasi lapisan berulang tepung beras dan gula. Dodongkal yang sudah matang kemudian dituangkan dalam bentuk seperti nasi tumpeng, lalu dipotong-potong menjadi beberapa bagian supaya mudah dinikmati.

Dodongkal yang sudah matang dipotong-potong lebih kecil
Dodongkal yang sudah matang dipotong-potong lebih kecil

Sebagai pelengkap, biasanya ditaburi dengan parutan kelapa sehingga rasanya jadi lebih gurih.

Jarkasih, sang penjual Dodongkal mengaku baru beberapa hari ini coba-coba untuk berjualan kuliner tradisional itu. Namun, diluar dugaan ternyata mendapatkan respon yang luar biasa dari pecinta masakan tradisional.

Selain rasanya yang nikmat disantap selagi hangat, beberapa pembeli juga mengaku terasa terobati kerinduannya pada Dodongkal yang kini sudah semakin langka. Belum lagi disempurnakan dengan kandungan gizinya yang lebih sehat dibanding jajanan masa kini.

Sederhana, Nikmat, dan Sehat
Sederhana, Nikmat, dan Sehat
  • 174 Posts
  • 61 Comments
Kala senggang di antara bekerja sebagai web master sebuah perusahaan travel, nyambi sebagai social media planner dan digital marketing agency, saya sempatkan menulis di blog ini.