Museum Pasifika, Membingkai Pesona Asia dan Pasifik

Waktu menunjukan pukul  7 pagi, mentari dengan cerahnya memancar di Kota Denpasar.  Rombongan  peserta ASEAN Blogger Conference (ABC) 2011 pun bergegas menaiki bus yang sudah disediakan persis didepan hotel POP Harris oleh komite pelaksana ABC 2011.

Tidak menunggu terlalu lama, rombongan melaju menuju pusat acara ABC 2011, yaitu Komplek Museum Pasifika yang terletak di Complex Bali Tourism Development Corporation (BTDC) Area, Block P, Nusa Dua. Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan suasana kota Denpasar yang sangat ramai. Nampak di beberapa sudut kota personil kepolisian dan tentara siap siaga penuh waspada, karena memang Bali sedang disibukan menjadi tuan rumah KTT ASEAN 2011, dan ABC 2011-pun bisa dibilang sebagai rangkaian dari KTT ASEAN itu sendiri. Butuh waktu sekitar 15 menit bagi kami untuk tiba di Museum Pasifika.

Berbeda dengan museum pada umumnya di kota-kota besar yang biasanya berada di tengah keramaian dengan hiruk-pikuknya suasana perkotaan. Museum Pasifika berada didalam sebuah kawasan yang asri, tenang, dan rapih. Suasana yang tenang ini menciptakan sebuah situasi yang nyaman dan memberi inspirasi bagi para pengunjung museum.

Deskripsi Singkat Museum Pasifika

Museum Pasifika adalah sebuah musem karya seni dan budaya yang bisa dibilang masih baru, atau bahkan salah satu museum termuda. Baru dibuka untuk umum pada bulan Agustus 2006. Meskipun terbilang baru, museum ini mempunya koleksi yang luar biasa banyak, yaitu sekitar 600 karya seni dari sekitar 200 seniman besar di dunia.

Pintu Masuk Museum Psifika
Pintu Masuk Museum Psifika

Terletak di Bali bagian selatan, tepatnya di Nusa Dua. Berjarak kurang lebih sekitar 10 km dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Didirikan diatas lahan 12.000 m2, memiliki 11 ruangan pameran. Hadirnya Museum Pasifika juga tidak terlepas dari sosok founder-nya, yaitu Moetaryanto P dan Philippe Augier. Dari desain bangunannya, museum ini memiliki arsitektur khas Bali.

Kawasan Asia dan Pasifik bisa dibilang memiliki separuh dari seluruh isi bumi. Keanekaragaman etnis, alam, bahasa, dan kekuatan pemikiran telah melahirkan banyak kekayaan ciri khas, seni dan budaya yang tidak bisa ditandingi oleh belahan manapun. Hal ini sudah sangat terbukti ketika berat-ratus tahun lamanya ratusan bahkan ribuan seniman terus berjunjung ke wilayah Asia dan Pasifik untuk mengeksplorasi kekayaan seni dan budayanya yang sangat luar biasa.

Melihat kondisi tersebut, Museum Pasifika hadir memberikan jembatan penghubung antara kekayaan budaya, geografi dan antropologi yang terhampar di Asia dan Pasifik, dan kemudiannya menyatukannya dalam sebuah galeri seni dari masa lampau dan masa kini yang menggambarkan kondisi dari masing-masing masa tersebut dari tangan-tangan para maestro seni. Melalui museum ini, kedepannya diharapkan akan menjadikan Bali sebagai pusat memori kekayaan seni dan bidaya di Asia Pasifik, dan kemudian menyajikannya sebagai sebuah informasi yang mengandung nilai pendidikan, sosial, seni dan budaya kepada masyarakat luas.

Di hari-hari biasa Museum Pasifika juga dibuka untuk umum. Dengan harga tiket sebesar 70.000 rupiah kita sudah bisa menikmati  dan menggali pengetahuan sepuasnya di museum ini. Sebuah harga yang sangat murah untuk mengeksplorasi kekayaan seni dan budaya dari lintas benua di sebuah museum dengan karya-karya dari para maestro seni  berkelas dunia.

Rangkaian Pesona Lintas Negara

Sebagaimana yang disebutkan diatas, Museum Pasifika memiliki 11 ruangan galeri yang antar ruangannya merangkai sebuah keindahan dan pesona Asia dan Pasifik melalui karya-karya maestro seni yang sangat berharga dan wajib dijaga. Ruangan-ruangan tersebut antara lain :

Ruangan 1 : Seniman Indonesia

Di Ruangan 1
Di Ruangan 1

Di ruangan ini tersaji berbagai macam lukisan dari para maestro seni lukis asal Indonesia, sebut saja Raden Saleh, Affandi, Hendra Gunawan, Saraochmin Salim, Ida Bagus Njoman Rai, Nyoman Gunarsa, dan lain-lain.

Uniknya, jika coba kita telaah lebih detil para maestro lukis Indonesia tersebut ternyata memiliki gaya dan teknik melukis yang berbeda-beda. Affandi misalnya, dalam melukis ia tidak menggunakan kuas, melainkan langsung menumpahkan cat dari tube-nya keatas media kemudian beliau pulas sedemikan rupa menggunakan jari-jarinya yang tak ubahnya sedang menari. Sebuah proses berseni  yang langsung mencurah dari ekspresi tanpa penghubung.

Ruangan 2 : Seniman Italia di Indonesia

Di ruangan ini tersimpan beberapa karya seni rupa dari para seniman asal Italia yang begitu terinspirasi dengan Indonesia, khususnya Bali. Seperti Renato Cristiano dengan karyanya Portrait of a Balinese Girl (1994), Romualdo Locatelli dengan karyanya Legong Dancer yang dibuat di tahun 1939. Ada juga Piero Antonio Garriazo dengan luksiannya yang berjudul Javanese Dancer dari tahun 1939.

Yang cukup menarik lainnya yaitu sebuah lukisan yang berjudul Balinese Market Scene dan sebuah patung yang dinamai Ni Sadri ternyata lahir dari sentuhan tangan yang sama, yaitu  Emilio Ambron. Dan tentunya seniman-seniman lainnya yang sebagian besarnya melukiskan sosok perempuan.

Ruangan 3 : Seniman Belanda di Indonesia

Inilah ruangan dimana karya-karya dari para seniman sekelas Willem Gerard Hofker yang berasal dari Amsterdam (1902) dan datang ke Bali pada tahun 1938. Kemudian ada Auke Sonnega, Isac Israel, Aggrebek, Arie Smit, dan Hendrik Paulides dipamerkan. Kesemuanya melukiskan tentang Bali, dan kesemuannya pernah menyinggahi Bali.

Ruangan 4 : Seniman Perancis di Indonesia

Ruangan keempat merupakan ruangan yang menghadirkan lukisan-lukisan dengan objeknya masih tidak terlepas dari kehidupan di nusantara melalui goresan-goresan para pelukis asal Perancis. Disini saya sangat tertarik dengan lukisan grayscale karya Maurice Pillard-Veneuil yang berjudul Koesoemobroto, Javanese Dancer (1902). Lukisan tersebut menampilkan sosok seorang penari yang sangat luwes dengan pencorakan lukisan yang sangat detil.

Disini juga terdapat lukisan-lukisan dari Lea Lafugie, Gabrielle Ferrand, Francois Brochet, Gustave Bettinger, Piere Siccard.

Ruangan 5 : Seniman Indo-Eropa di Indonesia

Ibu Reni Susanti Radi memandu peserta ABC 2011 di Museum Pasifika
Ibu Reni Susanti Radi memandu peserta ABC 2011 di Museum Pasifika

Nama semisal La Mayeur dan Roland Strasser tentunya sudah tidak asing lagi di benak para pecinta seni rupa, khususnya seni lukis. Sedikit memberikan gambaran singkat, La Mayeur atau yang bernama lengkap Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres adalah seorang pelukis kelahiran Belgia (1880) yang mewarisi darah seni dari orang tuanya. La Mayeur datang ke Bali pada tahun 1932, tepatnya di kota Singaraja. Kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Denpasar. Takjub dengan keindahan alam dan para penari Bali, La Mayeur merubah rencana awalnya yang hanya 8 bulan tinggal di Bali dengan mendirikan rumah dan sanggar melukis di Sanur, hingga akhirnya iapun menikah dengan seorang penari legong yang juga model dalam lukisannya, yaitu Ni Nyoman Pollok. Dan La Mayeur pun menghabiskan sisa hdupnya hingga tutup usia di Pulau Dewata.

Di ruangan 5 teradapt lukisan dari  Donald Friend (1915-1989), seorang seniman asal Australia yang 14 tahun tinggal di Bali. Kemudian ada juga Miguel Covarrubias (1905-1957) seorang pelukis dan karikaturis asal Meksiko. Ada pula Czeslaw Mystkowski (Polandia, 1898-1938), Roland Strasser (Austria, 1895-1874), Maurice Sterne (Latvia, 1878-1957).

Ruangan 6 : Eksibisi Temporer

Ruangan ini merupakan tempat eksibisi yang menampilkan banyak hal tentang keindahan dan kekayaan seni dan budaya Bali. Seperti lukisan, barong, gamelan, dan lain sebagainya. Disini juga terdapat panggung yang sering dijadikan sebagai tempat pertunjukan pagelaran seni Bali, seperti tari kecak, barong, dan juga kontemporer yang memadukan seni tradisional Bali dengan sentuhan gaya modern.

Di depan ruangan 6, terlatk sebuah taman yang cukup asri, yang ternyata taman tersebut persis berada di tengah-tengah rangkaian 11 ruangan yang ada di Museum Pasifika. Berseberangan dengan ruangan 6 adalah lobi akses utama keluar-masuk gedung museum.  

Eksibisi di depan ruangan 6 saat malam tertentu
Eksibisi di depan ruangan 6 saat malam tertentu

Ruangan 7 : Seniman Kawasan Indocina – Peninsula : Laos, Vietnam dan Kamboja

Di ruangan ini tidak lagi menampilkan segala hal yang berkaitan dengan Bali maupun Indonesia. Melainkan kumpulan lukisan yang merekam pesona negara-negara di kawasan Indocina-Peninsula, seperti Laos, Vietnam, dan Kamvboja.

Diantara pelukisnya antara lain Victor Tardieu dengan lukisannya yang berjudul Maternities (1925).Kemudian ada juga Andre Maire, Le Pho, Georges Groslier, ´Evariste Jonchère, dan  Vu Cao Dam, seorang pelukis kenamaan asal Vietnam yang meninggal pada tahun 2000.

Ruangan 8 : Seniman di Polinesia dan Tahiti

Ini adalah ruangan yang menampilkan berbagai lukisan dari kawasan Polinesia dan Tahiti. Sayang sekali untuk ruangan ini saya tidak bisa mengeksplorasinya karena di waktu yang bersamaan (kalau tidak salah) ruangan sedang digunakan suatu acara.

Ruangan 9 : Ruangan Seni Vanuatu dan Kepulauan Pasifik

Di ruangan ini terdapat banyak karya seni yang tak ternilai harganya dari wilayah kepulauan yang berada di tengah-tengah samudera pasifik. Tidak hanya lukisan, diruangan ini juga terdapat berbagai patung, perahu kayu, artefak, sangkar burung, baju perang  dan berbagai macam ornamen lainnya yang digunakan oleh masyarakat di kawasan pasifik.

Ruangan 10 : Tapa Oseania dan Pasifik

Untuk ruangan ini sayapun tidak mengetahinya secara persis, karena waktu itu saya (sebagai peserta ABC 2011) diminta segera berkumpul di ruangan 2. Tapi kalau melihat dari nama ruangannya ruangan ini menampilkan berbagai karya seni yang berkaitan dengan tenun / kain khas daerah-daerah di kawasan Oseania dan Pasifik.

Ruangan 11 : Ruangan Asia

Inilah ruangan yang menurut saya paling menarik. Dengan dipandu oleh Ibu Reni Susanti Radi, saya dan peserta lainnya  ditunjukan banyak hal di ruangan ini. Tidak hanya kumpulan lukisan dari karya-karya maestro  seni Asia, kami juga diberikan penjelasan singkat mengenai cerita dibalik lukisan dan pelukisanya.

Di ruangan ini terpajang lukisan-lukisan yang merekam dengan penuh pesona kesepuluh negara-negara di Asea Tenggara. Setiap negara diwakili oleh 2 buah lukisan dan 1 patung yang dilengkapi dengan biografi para pembuatnya dan label  bendera negaranya.

Yang paling menarik disini adalah seorang pelukis yang lahir di Tiongkok dan besar di Singapura, yaitu Lee Man Fong. Di ruangan 11 ini ia satu-satunya pelukis yang memiliki 2 lebel bendera, yaitu bendera Singapura dan Indonesia. Usut punya usut ternyata hal ini didasari pada bahwa Lee Man Fong puluhan tahun tinggal di Indonesia dan beliau adalah seorang penasehat seni Bung Karno. Tahun 1933 ia datang ke Indonesia, karena kekacauan politik di Indonesia pada tahun 1966 Lee Man Fong pergi kembali ke Singapura. Di tahun 1988 ia meninggal dunia karena sakit, dan saat itu ia berada di Puncak, Jawa Barat.

Hal yang membukakan mata lainnya adalah lukisan Bayang-bayang Dayang yang di buat oleh Chang Fee Ming di Kuala Trengganu – Malaysia pada tahun 1959. Kenapa dianggap menarik ?, karena lukisan ini bercorak batik yang sangat kental. Kalau baru-baru ini kita ribut-ribut soal klaim batik, maka di tahun 1959 batikpun sudah populer di Malaysia, khususnya Trengganu. Dan ini tentunya merupakan gambaran sebuah proses yang telah berjalan sangat  panjang dalam akulturasi budaya dua negara.

Denah Museum Pasifika (sumber denah : www.museum-pasifika.com)
Denah Museum Pasifika (sumber denah : www.museum-pasifika.com)

Kejujuran dari Sebuah Ekspresi

Awal menyaksikan banyal lukisan yang terpampang, mungkin secara awam kita akan kaget dengan melihat banyak lukisan yang terkesan cabul, tidak lumrah, dan bahkan sangat sulit dimengerti. Terlepas dari itu semua saya mendapatkan satu kesimpulan asumsi bahwa melukis adalah salah satu tindakan ekspresi yang mengambarkan kejujuran dari sang pelukis itu sendiri.

Dalam beberapa lukisan atau karya seni, mungkin kita butuh penjelasan tentang makna yang terkandung didalamnya, terlebih lagi itu lukisan abstrak. Dan ketika kita tidak bisa memahaminya mungkin disitulah terletak makna dari lukisan tersebut, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh maestro lukis Affandi, yaitu “Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan”. Kalimat yang saya garis bawahi memberikan satu kesimpulan bahwa lukisan dapat berbicara lebih dari satu paragraf atau bahkan satu buku.

Dalam melukis, siapapun tidak bisa berbohong. Bahkan banyak yang bilang kalau karya lukis adalah simbol dari kejujuran, kejujuran dari jiwa seorang pelukis pada saat ia melukis.

Penutup

Sahabat, demikianlah uraikan singkat yang bisa saya tuangkan di blog yang sederhana ini. Tidak mungkin tentunya tulisan ini mewakili semua yang ada di Museum Pasifika. Dengan segala kekurangan yang ada pada diri saya bukan sesuatu yang mudah untuk menggambarkan kumpulan keindahan yang tersimpan di Museum Pasifika.

Dari apa yang saya saksikan, apa yang saya dengar, dan apa yang saya nilai. Pantaslah kiranya jika Museum Pasifika diibaratkan sebuah bingkai yang menjadi ruang bagi banyak pesona dan keindahan di Asia Pasifik untuk menunjukan kekayaan nilai seni dan budayanya.

Terimakasih banyak kepada ASEAN Blogger Comunity, Komite Pelaksana ABC 2011, Pengelola Museum Pasifika, Komunitas Blogger Benteng Cisadane (KBBC), dan lain sebagainya yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyaksikan satu warisan seni dan budaya yang luar biasa.

Buat sahabat-sahabat yang ada rencana untuk berliburan atau berwisata ke Pulau Bali, mungkin bisa menabahkan agenda tambahan selama disana untuk melengkapkan pengalaman berwisatanya dengan mengunjungi Museum Pasifika. Jangan lupa, selepas dari sana disharing juga ya pengalamannya. Sukses selalu ! 🙂

Referensi Online :

  • museum-pasifika.com
  • aseanblogger.com
  • id.wikipedia.org
  • 174 Posts
  • 61 Comments
Kala senggang di antara bekerja sebagai web master sebuah perusahaan travel, nyambi sebagai social media planner dan digital marketing agency, saya sempatkan menulis di blog ini.