Membaca Kembali Tulisan di Blog Sendiri

Produktif menulis memang menyenangkan, kita seperti menemukan candu yang bertolak belakang dengan situasi ketika tidak punya gairah sedikitpun untuk menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Dari sekian banyak tulisan yang diterbitkan di blog, seberapa sering Anda membaca kembali tulisan di blog yang sudah lama berlalu? atau jangan-jangan tidak pernah? Kalau tidak pernah, bagaimana kita bisa terus memproduksi  tulisan yang benar-benar orang lain ingin membacanya?

Ketika kita hanya asik menulis di  blog, bisa jadi apa yang kita tulis bukan analisis lengkap dari sebuah objek, hanya sebuah ‘snapshot’ dari isu-isu saat ini. Padahal, seaktif apapun kita menulis masih tetap ada hal-hal yang sebaiknya jangan dulu ditulis atau bahkan jangan ditulis sama sekali. Bisa jadi ketika kita memaksakan diri untuk menuliskannya, maka kemungkinan terburuk yang terjadi ialah pembaca tidak peduli lagi dengan apa yang kita tulis. Cobalah mundur sejenak dari aktivitas menulis  Anda, baca kembali tulisan-tulisan yang sudah diterbitkan beberapa bulan/tahun lalu. Kadang di situ kita bisa melihat sesuatu yang berbeda.

Bahkan, ini akan memberikan beberapa manfaat seiring dengan niat awal Anda menulis di blog.

Menulis untuk dipahami, berbicara untuk didengar, dibaca untuk tumbuh.

Lawrence Clark Powell

Mengikat Ilmu

Ilmu memang tidak berat dibawa, tapi saking entengnya sering membuat kita lupa. Ada pepatah yang mengatakan “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Seiring dengan berkembanya pola tradisi orang dalam menulis dari buku tulis biasa ke media digital, blog pun menjadi salah satu media populer untuk menuliskan berbagai ilmu pengetahuan.

Ketika tulisan sudah selesai, kita tidak perlu repot-repot mencari publisher yang mau menerbitkan buku kita supaya ilmu yang ada di dalamnya bisa teramalkan. Di blog, dengan sekali klik “Terbitkan” tulisan yang kita buat bisa langsung dibaca oleh siapapun dan dari belahan bumi manapun.

Jika prinsip ngeblog Anda untuk “mengikat ilmu” yang saat ini masih Anda kuasai dan khawatir suatu saat akan luntur, maka dengan membacanya kembali adalah cara termudah bagi Anda untuk memiliki “pengingat ilmu” yang akan mengingatkan ketika Anda sudah mulai sering lupa.

Membaca Kembali Tulisan Sendiri Salah Satu Cara Belajar Menulis

Kasarnya, kalau ngeblog hanya untuk belajar menulis kenapa tidak menulis di buku catatan saja? toh dari SD (bahkan TK) pun kita sudah belajar menulis?

Inilah indahnya seni ngeblog, ketika kita menjadikannya sebagai ruang untuk belajar menulis, ia tidak hanya melatih kebiasaan. Kita juga akan belajar bagaimana menghadapi respon (reward and punishment) dari berbagai orang dengan isi kepala yang berbeda-beda. Antara yang sependapat, berhaluan, atau bahkan setengah-setengah. Dan, ini tidak akan ditemukan dengan belajar menulis di buku tulis biasa. Butuh keajaiban super untuk menjadikannya serupa.

Di satu kesempatan, Saya sering merasa geli ketika membaca tulisan sendiri di beberapa waktu lalu. Entah wawasan menulis yang terus bertambah, atau karena memang cara Saya menulis terlalu bodoh. Saya seperti memasuki alam yang berbeda, seolah-seolah berada di posisi sebagai orang lain ketika membaca tulisan sendiri. “Hai, benarkah ini tulisan saya ?. Oooowhh… betapa menggelikannya tulisan Saya!

Cara Berpikir dan Sudut Pandang yang Berubah

Dalam sebuah catatan opini, mungkin dulu kita berpendapat “begitu”, sedangkan sekarang jadi “begini”. Apakah itu sebuah inkonsistensi? belum tentu, tapi bisa jadi.

Tidak semua ketidakkonsistenan itu negatif, dan tidak semua konsisten pun berarti positif. Kalau selama ini kita betah pada cara berpikir yang egois lalu kemudian berubah menjadi altruis, itu adalah salah satu contoh bahwa kita wajib tidak konsisten dari keburukan.

Ketika cara berpikir kita tanpa disadarai sebetulnya sudah berubah, kita akan melihat dengan kontras perubahan-perubahan tersebut melalui tulisan (khususnya yang bersifat opini) pada blog kita di beberapa waktu ke belakang.

***

Membaca kembali tulisan-tulisan di blog sendiri yang sudah terbit beberapa waktu ke belakang sama hal-nya dengan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengevaluasi unsur-unsur dalam postingan  blog  dan menciptakan sesuatu yang akan Anda klik jika melihatnya di situs pencarian online.

Jika Anda ingin menikmati apa yang Anda tulis, kemungkinannya orang lain juga akan sama. Jika Anda sendiri  merasa tulisan Anda membosankan, disinilah saatnya melakukan penyesuaian.

Keep Happy Blogging! 🙂

  • 195 Posts
  • 61 Comments
Kala senggang di antara bekerja sebagai web master sebuah perusahaan travel, nyambi sebagai social media planner dan digital marketing agency, saya sempatkan menulis di blog ini.